Kawah-kawah di Dieng

Kawah-kawah di Dieng

Diposting pada

Daftar Kawah-kawah yang ada di dataran tinggi Dieng

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang termasuk salah satu kawah yang memiliki ukuran besar dan paling bagus diantara kawah-kawah lainnya yang ada di Dieng Plateau namun masih kalah besar dibandingkan dengan kawah yang ada di Tangkuban Prahu Tanah Parahyangan Bandung, Jawa Barat.

Kapundan Kawah Sikidang berbentuk lingkaran yang dipenuhi oleh lava cair. Air kawah ini selalu mendidih dan berwarna hitam keabuan pekat. Titik didih air yang ada di Kawah Sikidang mencapai 98°C bahkan bisa lebih dari 100°C jika aktivitas vulkanik Gunung Dieng sedang mengalami peningkatan.

Sebenarnya tidak hanya ada satu kawah saja di area ini, namun juga terdapat beberapa lubang kawah yang berukuran lebih kecil. Sebagai contoh di dekat pintu masuk Kawah Sikidang di sebelah kanan jalan setapak menuju kawah utama ada kapundan kawah yang lumayan besar namun sudah tidak lagi dipenuhi oleh lava cair.

Konon kawah utamanya dulu muncul ditempat tersebut. Kemudian ada juga lubang kawah di sebelah kiri jalan yang terletak sebelum kawah utama dan ada juga lubang kawah di belakang bukit berjumlah 2 buah. Di semua area Kawah Sikidang tepatnya di atas tanah yang berkapur berwarna putih sering sekali dijumpai gelembung gas vulkanik yang jika disentuh airnya akan terasa panas.

Baca juga: Legenda Kawah Sikidang

Selain tempatnya yang mudah dijangkau, Kawah Sikidang merupakan destinasi wisata vulkanik Dieng yang paling banyak pengunjungnya karena apa? Karena kawah ini tidak mengandung gas atau senyawa beracun seperti yang terdapat di Kawah Sinila dan Kawah Timbang sehingga aman untuk dikunjungi wisatawan.

Di area Kawah Sikidang terdapat pula pemandangan yang jarang sekali ditemukan di daerah lain yaitu area kawah berwarna putih berlatar belakang pegunungan hijau

Di area Kawah Sikidang terdapat pula pemandangan yang jarang sekali ditemukan di daerah lain yaitu area kawah berwarna putih berlatar belakang pegunungan hijau sehingga menghasilkan landscape yang sangat kontras apalagi ketika cuaca cerah dan langit berwarna biru pekat.

Di sekitar kawah juga banyak ditemukan flora endemik pegunungan yang sangat familiar dimata pendaki yaitu pohon cantigi yang berbuah bulat kecil jika masak berwarna hitam keunguan bahkan buahnya bisa dimakan dan batang pohonnya sangat cantik bila dibuat bonsai.

Selain pemandangannya bagus, wisatawan juga bisa mencicipi telur rebus kawah dengan harga 5.000 / butir yang dijual oleh penduduk lokal setempat.

Meskipun ternominasi sebagai kawah di Dieng yang aman dikunjungi namun pengunjung harus tetap waspada dan perlu berhati-hati serta dilarang keras mendekati bibir kawah. Saat berada di destinasi ini wisatawan disarankan agar mengenakan masker karena bau belerang yang sangat menyengat.

Bagi wisatawan yang memiliki riwayat sakit pernapasan juga kurang direkomendasikan mendekati kawah, Anda bisa melihat pemandangan kawah dari kejauhan yaitu di dekat pintu masuk.

Ada aneka warung kopi dan jajajan khas disana seperti tempe kemul, jagung bakar, kentang goreng serta kudapan lain yang bisa disantap ketika berada di area wisata Kawah Sikidang.

Di area Kawah Sikidang juga terdapat beberapa sumur pengeboran geothermal atau energi panas bumi sehingga terlihat juga pipa-pipa raksasa merayap di sepanjang tepi jalan dan lereng bukit.

Terkadang ada suara yang agak bising dan sangat nyaring terdengar dari area ini, suara tersebut bukanlah dari gejolak kawah namun dari salah satu sumur pengeboran geothermal.

Kawah Sileri

Kawah Sileri

Kawah Sileri merupakan kawah terluas di Dieng Plateau. Kawah ini berada di lereng Gunung Pager kandang dan dibagian barat Gunung Sipandu. Luas area kawasan Kawah Sileri yaitu mencapai kurang lebih 4 hektar yakni gabungan antara kapundan kawah serta area disekelilingnya.

Kapundan Kawah Sileri sangat berbeda dengan Kawah Sikidang maupun Kawah Candradimuka yang memiliki bentuk seperti danau. Di bagian tengah danau kawah Sileri ini terlihat gejolak air mendidih yang sangat kuat dan lumayan besar menyembur ke udara diiringi oleh asap putih yang lumayan tebal menyelimuti seluruh air kawah.

Lava cair yang ada di Kawah Sileri memiliki warna putih keruh yaitu mirip seperti air cucian beras

Lava cair yang ada di Kawah Sileri memiliki warna putih keruh yaitu mirip seperti air cucian beras. Air cucian beras ini orang Jawa menyebutnya dengan ” Leri” sehingga dinamakan dengan Kawah Sileri.

Aliran air kawah tersebut mengalir menuju ke sebuah sungai yang berwarna silver yaitu Sungai Dolog. Air sungai ini terasa sangat hangat dan mengandung belerang karena berasal dari danau kawah, namun uniknya sungai Dolog digunakan juga oleh warga sekitar untuk menyiram kebun sayur mayur mereka yang terletak di sekitar sungai.

Baca juga: Legenda Kawah Sileri

Kawah Sileri adalah sebuah destinasi wisata di Dieng yang dibuka untuk umum namun tidak ada biaya tiket masuk ketika mengunjungi tempat ini.

Keindahan Kawah Sileri dapat pula disaksikan dari kejauhan yaitu di sebuah gardu kecil yang berada di tepi jalan raya. Wisatawan juga dapat melihat aktivitas Kawah Sileri dalam jarak yang lebih dekat hanya dengan berjalan menuruni bukit sekitar 300 meter saja dari badan jalan raya.

Karena kawah ini masih sangat aktif jadi pengunjung harus tetap waspada dan berhati-hati saat menginjakkan kaki di tepian kawah karena takut terjerembab kedalamnya.

Kawah ini mengeluarkan bau belerang menyengat seperti halnya di Kawah Sikidang jadi pengunjung harus memakai masker.

Kawah Sileri adalah kawah yang paling aktif di Dieng setelah Kawah Timbang dan Kawah Sinila namun kawah ini tidak mengeluarkan gas beracun seperti CO2 jadi aktivitas vulkaniknya selalu dipantau oleh Badan Vulkanologi Dieng dari pos pengamatan.

Kawah Sileri sering mengalami letusan yang tercatat sejak tahun 1944, 1954, 1956, 2003, 2009, dan 2017. Letusan terbesar yang pernah terjadi yaitu pada tahun 1944 yang mengakibatkan sebuah desa yang berada di dekat kawah lenyap tertimbun material vulkanik dan memakan ratusan korban jiwa.

Letusan Kawah Sileri diatas juga tertulis di sebuah tugu peringatan yang ada pertigaan jalan menuju kawah namun tugu ini kini sudah dibongkar dan tidak ada lagi.

Kawah Candradimuka

Kawah Candradimuka

Disebelah barat Desa Kepakisan ada sebuah jalan tidak terlalu lebar mengarah ke sebelah selatan melewati rumah-rumah penduduk, jalan tersebut lumayan sulit, terjal, licin, menanjak serta di sebelah kanan kiri terdapat jurang lumayan dalam.

Jalan inilah yang akan mengantarkan Anda menuju ke salah satu kawah aktif di wilayah dataran tinggi Dieng yaitu Kawah Candradimuka. Lama perjalanan menuju area kawah jika ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit dan bila menggunakan motor atau mobil sekitar 15 menit.

Tidak ada akses transportasi umum menuju kawah ini, jadi pengunjung harus membawa kendaraan sendiri. Di penghujung rumah penduduk terdapat pos penjagaan tiket wisata, disinilah wisatawan bisa membayar retribusi terlebih dahulu sebelum menuju Kawah Candradimuka hanya dengan biaya Rp 5.000 untuk 1 orang.

Posisi Kawah Candradimuka adalah di sebelah utara pusat Dieng yang jaraknya kurang lebih 8 km melewati jalan Kepakisan. Kawah Candradimuka terbentuk akibat adanya sebuah letusan gunung yang ada disekitar wilayah ini yaitu Gunung Pagerkandang.

Gunung Pagerkandang merupakan salah satu gunung di wilayah Dieng yang memiliki ketinggian 2.241 meter di atas permukaan laut Mdpl. Gunung ini kini sudah tidak aktif lagi namun menyisakan kawah-kawah aktif di bagian kaki gunung dan menjadi pemandangan utama yang bisa di saksikan ketika mengunjungi objek wisata Kawah Candradimuka dengan bagian lereng dibuat berteras-teras oleh para petani untuk ditanami aneka sayur mayur dan kentang sehingga terlihat sangat artistik.

Kawah Candradimuka memiliki karakteristik yang berbeda dengan Kawah Sikidang. Kawah Sikidang lokasinya tidaklah permanen atau kawah utamanya sering berpindah tempat sedangkan tempat kemunculan Kawah Candradimuka dari dulu hingga sekarang memiliki posisi yang sama atau tidak berubah hanya saja mengalami pelebaran ataupun penambahan titik kawah kecil atau disebut juga kawah anakan.

Ada dua buah kawah yang bisa ditemukan di destinasi wisata ini. Kawah yang pertama berada di sebelah kanan jalan raya, posisinya menjorok ke dalam dengan tebing disekelilingnya. Kawah ini berisi penuh air mendidih membentuk seperti kolam air panas dan mengandung belerang serta mengeluarkan bunyi menggelegar dan mendesis yang diiringi oleh kepulan asap putih membumbung di udara.

Jika aktivitas gunung Dieng sedang meningkat, bunyi kawah ini semakin keras dan mengeluarkan asap yang lebih tebal.

Kawah yang kedua berada dibawah kawah pertama. Kawah ini susah dijangkau pengunjung karena terletak disebuah jurang yang lebih sempit dan dalam namun mengeluarkan air cukup deras.

Di kanan kiri juga terdapat semak yang sangat rimbun sehingga menutupi lubang kawah dan mengakibatkan kesulitan untuk memantau aktivitasnya. Dari jurang kawah ini hanya terlihat asap putih yang membumbung tinggi ke udara.

Pengunjung bisa menyaksikan Kawah Candradimuka dari tepi jalan atau bisa menyaksikan dari jarak dekat karena sudah dibuat semacam tangga untuk menuruni tebing dengan pagar pembatas menuju kolam kawah.

Namun wisatawan perlu sangat berhati-hati karena jalan tersebut sangat licin jika musim penghujan tiba serta tidak baik bagi Anda yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Untuk melihat pemandangan sekitar kawah yang lebih leluasa disediakan juga sebuah tempat berupa gardu (Sebuah bangunan kecil 2 lantai yang dibangun di tepi jalan disamping kawah sebagai tempat beristirahat dan menyaksikan pemandangan sekitar) yang ada di tepi jalan raya di atas Kawah Candradimuka.

Kawah Candradimuka bisa dijangkau dari dua wilayah kabupaten yaitu Wonosobo dan Banjarnegara.

Jika dari Kota Banjarnegara bisa melalui Kecamatan Batur atau Pasar Batur. Bila tidak menggunakan kendaraan sendiri bisa meminta tukang ojek untuk mengantarkan dengan tujuan Desa Pekasiran.

Dan bila dari arah Wonosobo terlebih dahulu menjangkau desa Dieng. Sesampainya di Desa Dieng melanjutkan perjalanan melewati Jalan Kepakisan hingga ke Desa Pekasiran.

Kawah Sikendang

Kawah Sikendang merupakan salah satu kawah aktif yang berada di area Dieng Plateau. Kawah ini memang tidak sepopuler Kawah Sikidang, Kawah Sileri maupun Kawah Candradimuka yang selalu ramai dikunjungi wisatawan karena memang lokasinya agak tersembunyi yaitu di kawasan cagar alam Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Letaknya di tepian Telaga Warna bagian barat yang ditandai dengan tanah berwarna putih dan berkapur. Saat ini Kawah Sikendang tidak mengeluarkan lava cair yang membentuk genangan seperti kolam mendidih namun hanya menampakkan aktivitas vulkanik kecil yaitu hanya muncul gelembung gas panas meletup di permukaan tanah.

Letupan gas kawah tersebut juga bisa disaksikan di dalam air telaga, namun jika dipegang airnya tidak terasa panas.

Di kawasan Kawah Sikendang juga tercium bau belerang yang agak menyengat dan tidak sedap jadi pengunjung perlu mengenakan masker jika ingin mendekati area kawah.

Namun bila lupa membawa masker biasanya ada penjual masker yang berada di area parkir telaga. Tanah yang berada di sekitar letupan gelembung gas panas memiliki tekstur tanah yang keras hampir seperti batu cadas dan jika dipegang akan terasa hangat.

Nama Kawah Sikendang diberikan olah warga lokal sekitar. Dari dulu hingga sekarang banyak warga desa yang melewati jalan setapak yang ada di area ini untuk menuju ladang-ladang mereka ataupun sebagai jalan alternatif dari Desa Dieng menuju Desa Jojogan dan Desa Patak Banteng.

Meskipun aktivitas vulkaniknya rendah namun kawah ini mengeluarkan bunyi yang agak nyaring. Bunyi kawah tersebut seperti bunyi salah satu alat musik gamelan yaitu “kendang”.

Untuk menuju Kawah Sikendang pengunjung perlu membayar biaya tiket masuk kawasan wisata Telaga Warna dan Pengilon sebesar Rp 12.500 per orang untuk wisatawan domestik saat weekday dan Rp 15.000 per orang saat akhir pekan.

Ada dua buah pintu masuk yang bisa wisatawan pilih yaitu pintu masuk lama dan pintu masuk baru. Ada 3 buah cabang jalan setapak bila melalui pintu masuk pertama yaitu ke arah kiri menuju atas bukit Dieng Theater, sedangkan jalan lurus menuju komplek gua dan Telaga Pengilon kemudian jalan setapak di sebelah kiri yaitu menuju area Kawah Sikendang.

Wisatawan akan menempuh perjalanan sekitar 400 meter hingga sampai area kawah dengan melalui jalan yang rindang karena banyak terdapat tanaman pohon akasia.

Bila melalui pintu masuk yang baru pengunjung akan menghemat tenaga karena hanya berjalan sekitar 200 meter hingga kawah. Tidak hanya Kawah Sikendang yang bisa Anda saksikan namun pemandangan Telaga Warna juga sangat bagus dan mempesona jika dilihat dari tempat ini.

Kawah Sinila

Kawah Sinila merupakan salah satu kawah di Dieng yang pernah mengalami letusan dahsyat pada tahun 1979 silam. Kawah ini memuntahkan lahar, lontaran batu serta air panas mengalir ke daerah sekelilingnya.

Dari letusan Kawah Sinila tersebut juga mempengaruhi peningkatan gejala vulkanik pada kawah-kawah lain yang ada di Dieng Plateau. Sebelum terjadi letusan besar sempat terjadi beberapa kali gempa vulkanik yang mengguncang wilayah Dieng.

Dari letusan Kawah Sinila tersebut mengakibatkan rekahan tanah yang cukup panjang dengan radius 4 km memanjang dari utara sampai selatan. Rekahan tanah ini mengeluarkan gas beracun yaitu CO2 dan H2S dengan itensitas tinggi.

Gas ini tidak berbau seperti belerang dan tidak juga berwarna namun sangat mematikan. Rekahan tanah ini muncul di kawasan yang sekarang kita kenal sebagai Kawah Timbang.

Kawah Sinila kini hanya menyisakan kapundan kawah yang tidak terlalu besar memiliki bentuk seperti mangkok dan terlihat seperti danau.

Masyarakat setempat menyebutnya dengan Telaga Nila. Kawah Sinila hampir mirip dengan Sumur Jalatunda namun lebih besar dan dinding kawah tidak terlalu curam.

Disekelilingnya ditumbuhi semak dan rumput gajah yang rimbun. Ada juga petani setempat yang memanfaatkan air kawah tersebut untuk pengairan, hal ini terlihat banyak terdapat pipa-pipa kecil menjulur ke arah kawah dengan mesin diesel seperti yang bisa disaksikan di area Telaga Merdada.

Bekas Kawah Sinila atau Telaga Nila merupakan salah satu kawasan di Dieng Plateau yang tidak boleh dikunjungi oleh wisatawan. Aktivitas vulkanik di sekitar kawah ini juga terus dipantau secara periodik dari pos pemantauan gunung api Dieng karena daerah tersebut memasuki kawasan rawan bencana atau zona merah di Dieng yang sewaktu-waktu bisa terjadi erupsi kembali serta mengeluarkan gas beracun.

Tragedi Sinila merupakan sebuah peristiwa memilukan akibat letusan Kawah Sinila yang terjadi beberapa tahun silam. Letusan ini mengakibatkan duka yang mendalam karena lebih dari 1000 warga menjadi korban dan 149 orang meninggal dunia.

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Februari pada tahun 1979 yang diawali oleh gempa bumi beberapa kali mengguncang daerah Batur khususnya Desa Kapucukan dan Desa Simbar sehingga membuat warga desa panik.

Ada yang hanya berdiam diri di dalam rumah ada juga yang berhamburan berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa tersebut ternyata disebabkan oleh Kawah Sinila yang sedang mengalami erupsi.

Kawah Sinila ini mengalami erupsi freatik pada pukul 05.04 dini hari kemudian dilanjutkan merekahnya area tanah di Kawah Timbang dengan mengeluarkan emisi gas beracun pada pukul 06.50 Wib.

Warga desa yang berusaha melarikan diri dari rumah, mereka dihadang oleh gas yang tidak berbau dan tidak berwarna yaitu gas C02 dan H2S yang begitu cepat menuruni lembah dan lereng sehingga mengakibatkan ratusan orang meninggal berserakan di jalanan di area dekat Kawah Timbang.

Sebagian warga yang selamat adalah mereka yang tetap berdiam diri di rumah. Inilah tragedi Sinila yang telah menjadi catatan sejarah Gunung Dieng. Kejadian ini berhasil direka ulang dan bisa wisatawan saksikan dalam film dokumenter yang ditayangkan di Dieng Plateau Theater.

Kawah Sinila terletak di sebelah utara Sumur Jalatunda dan disebelah selatan Telaga Dringo. Secara geografis wilayah ini berada di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Kawah Sinila merupakan kawasan yang tidak mudah dijangkau oleh masyarakat umum karena letaknya di tengah-tengah area pertanian kentang dan harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *