Seikat Tulip Merah

Diposting pada
  • Judul: Seikat Tulip Merah
  • Penulis: Siwi Hanna
    • Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta, jurusan Manajemen Informasi dan Komunikasi.
  • (Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan)


Bel berdering kencang memekik telinga, tanda pelajaran terakhir telah usai. Uli bersiap memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas berwarna merah jambu kesayangannya. Setelah guru mengucap salam, ia bergegas keluar kelas menuju parkiran sekolah untuk mengambil sepedanya. Setiap sepulang sekolah semangatnya selalu menggebu, menurutnya rumah adalah tempat pulang terbaik. Dengan semangat ia pacu sepeda yang dia beri nama pedrosa. Nama ini terinspirasi ketika ia menonton pertandiangan motoGP dan kebetulan sepeda miliknya juga berwarna orange, sama seperti motor milik pembalap Daniel Pedrosa.

“Kring… kring.. kring duluan ya Ra!”, teriak Uli meninggalkan Rara teman sebangkunya dari zaman TK sampai sekarang.

“Iya, hati – hati!”, sahut Rara setengah berteriak.

Uli sangat berbeda, tidak seperti anak sepantaran lainnya layaknya anak kelas 4 SD yang masih gemar bermain. Sesampainya di rumah ada banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Maklum, Uli adalah anak tunggal dari pasangan Aval dan Ira. Namun Ira, Ibu Uli meninggal sesaat setelah melahirkannya. Hal inilah yang membuat Uli menjadi anak yang mandiri. Sejak kecil ia selalu melakukan pekerjaan rumah padahal bapaknya sudah melarang. Bapaknya sudah hafal betul dengan kebiasan Uli yang satu ini.

Siang ini tidak seperti biasanya, awan mendadak berubah menghitam, rintik hujan perlahan turun membasahi bumi, aroma tanah basahpun mulai tercium. Untung saja Uli tidak telat mengangkat jemuran. Kalau tidak, sudah basah kembali baju yang dijemur bapaknya pagi tadi. Sejenak Uli duduk di depan jendela kamar menatap air hujan yang jatuh.

“Gimana ya rasanya punya Ibu, aku juga ingin dibuatkan Ibu susu coklat panas saat hujan seperti ini”, gumam Uli dalam hati, tak sadar air matanya turun.

Tidak berselang lama, Aval Bapak Uli pulang. Rutinitasnya sebagai petani kentang yang sudah memasuki musim panen membuat ia jarang bisa menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Sudah 10 tahun Bapak Uli menduda. Setelah sepeninggalan Ira entah mengapa Aval enggan membuka hati untuk wanita lain.

“Ulii, nak, kamu sudah makan belum? Ini Bapak bawa bakso kesukaanmu”.

Aval melepas sepatu bot hitamnya, meletakannya di samping jajaran pot putih berisikan tanaman tomat dan cabai di pelataran rumah. Dilihat dari banyakya tanaman sayur di rumah ini, sudah bisa dipastikan bahwa tanah daerah ini sangat subur, dan mampu menghidupkan banyak jenis tanaman sayur.

“Anak cantikku ternyata ketiduran. Bangun nak, ini bakso pesananmu tadi pagi”.

“Mana baksonya? Aku lapar, Pak”, Uli mengusap kedua matanya, sambil mengumpulkan nyawa usai tidak sengaja tertidur selepas sholat dzuhur.

“Nak besok lusa kamu nggak lupa kan mau diruwat, ini rambutmu sudah semakin panjang”.

Uli terdiam sebentar lalu mengangguk pertanda bahwa ia ingat akan agenda itu.

Uli merupakan satu dari sekian banyak anak gembel asal Dataran Tinggi Dieng yang memiliki rambut gimbal. Nama gembel sendiri merupakan sebutan bagi anak yang memiliki rambut gimbal. Ya, rambut ini gimbal sungguhan. Bukan karena ia malas menyisir rambutnya, namun rambut gimbal ini muncul secara misterius saat dirinya menginjak usia ke 5. Badannya mengalami demam tinggi selama beberapa hari. Namun anehnya, demamnya menurun dengan dibarengi tumbuhnya beberapa helai rambut yang berubah menjadi gimbal.

Menurut kepercayaan leluhur, rambut gimbal ini tidak bisa asal dipotong, harus melewati serangkaian upacara khusus yang disebut ruwatan. Upacara ini biasa digelar bertepatan dengan tahun baru Jawa satu suro. Konon di desanya pernah ada penduduk yang tak percaya dan nekad memotong rambut gimbal anaknya, tak berselang lama anaknya mengalami demam tinggi dan rambut gimbalnya tumbuh semakin lebat.

Sebagai penduduk asli desa Dieng, Aval masih memegang teguh kepercayaan tersebut. Dibiarkannya rambut gimbal Uli tumbuh hingga sang empunya sudah siap untuk dipotong dan mengajukan permintaan.

Jarum jam berputar dengan cepat, tak terasa hari kian berganti. Kabut tipis dan hawa dingin mengiringi arak-arakan keliling kampung dengan rute terakhir kompleks Candi Arjuna. Arakan ini juga diramaikan dengan suara gamelan dan tarian rampak yakso. Dibaca dari buku sejarah, tarian ini berceritakan tentang peperangan antara Gatotkaca dan kera putih dengan Prabu Kolo Pracono.

Uli tidak sendiri, ada sembilan anak gembel lainnya yang juga akan mengikuti prosesi ruwatan. Anak-anak ini bukan hanya berasal dari sekitar Dieng saja, tetapi dari beberapa desa dari kota Wonosobo bahkan Banjarnegara. Sebelumnya anak yang hendak diruwat akan mengajukan permintaan yang harus dikabulkan. Begitupun dengan Uli.

“Pak, nggak lupa kan dengan seikat tulip merah yang aku minta minggu lalu?”, tanya Uli.

Aval mengangguk. Ia tak habis pikir dari semua permintaan kenapa Uli hanya meminta seikat bunga tulip merah. Padahal ia telah menawarkan beberapa pilihan hadiah untuk putrinya itu.

Upacara ruwatan diawali dengan prosesi menyucikan rambut anak gembel dengan air sumur sendang Sedayu di komplek Dharmasala. Selanjutnya, mereka dibawa ke pelataran Candi Arjuna untuk dipotong rambut gimbalnya. Setelah tembang Dandang Gula dilantunkan, prosesi pemotongan pun dimulai. Pemotongan rambut gimbal ini dipimpin oleh para sesepuh setempat.

Mata Uli mulai berkaca melihat ratusan pasang mata tertuju ke arahnya. Tentu saja para wisatawan yang hadir untuk menyaksikan prosesi upacara ruwatan.

“Ibu di mana? Ibu lihat aku sedang diruwat!”, ucap Uli pada angin yang ia yakin didengar oleh mendiang sang Ibu.

Upacara ruwatan diakhiri dengan prosesi larung rambut gimbal. Rambut yang telah dipotong dimasukkan ke dalam gentong yang nantinya dilarung menuju telaga warna. Dipilihnya telaga warna sebagai lokasi pelarungan bukan tanpa alasan, rambut gimbal tersebut harus dilarung ke sungai yang mengalir ke Samudra Hindia.

Setelah acara selesai, Aval memberikan seikat bunga Tulip merah yang sebelumnya telah Uli minta. Ia menatap Uli dangan lembut layaknya lembayung senja yang meneduhkan semesta, seketika ia teringat mendiang istrinya.

“Kamu seperti Ibu saja nak”

Aval baru tersadar mengapa putri semata wayangnya hanya meminta seikat bunga Tulip, rupanya ia mengikuti kecintaan ibunya. Semasa hidup Ira sangat jatuh cinta dengan keindahan tulip sampai anaknya ia beri nama Putri Tulipandutya yang berarti pemimpin wanita yang dicintai. Menurutnya tulip memiliki pesona tersendiri, dalam keadan kuncup saja bunga ini begitu mempesona apalagi jika dalam keadaan mekar.

Seusai mengikuti rangkaian prosesi ruwatan yang panjang, Uli dan Aval melaju menuju peristirahatan terakhir sang ibu tercinta dengan membawa seikat tulip merah di tangan kanannya Uli. Keduanya melangkah menuju makam Ira. Tak seperti orang pada umumnya yang berduka mengingat kepergian seseorang, dengan senyum merekah di bibirnya Uli meletakan bunga tulip yang dibawa ke pusaran makam ibundanya. Dari sorot mata kecoklatanya terpancar aura bahagia.

“Aku bawa bunga tulip kesukan ibu kali ini. Hari ini aku juga sudah di ruwat, ibu tak perlu khawatir lagi akan orang-orang yang kerap mengolok-olok rambut gimbalku. Sekarang rambut gimbalku telah dipotong”, ucap Uli dengan antusias menceritakan kegiatan panjang yang ia lalui hari ini.

Semburat jinga mulai tenggelam. Setelah rampung memanjatkan doa untuk sang Ibu, dengan mengandeng tangan Bapakya Uli melangkah pergi. Baginya, cara mengenang terbaik untuk sang Ibu adalah mengikhlaskan dan tidak berlarut-larut berenang dalam aliran air mata. Uli selalu merasakan kehadiran Ibunya dalam setiap langkah kecilnya.

Tinggalkan Balasan