Wikipedieng Wikipedieng

Ensiklopedia di Hyang

User Tools

Site Tools


sejarah-dieng

Sejarah Dieng

Dahulu Dieng memiliki peradaban yang tinggi, hal ini dibuktikan dengan penemuan benda-benda bersejarah berupa candi, arca dan peninggalan kuno lainnya. Sampai dengan saat ini banyak para ahli berusaha mengungkap jejak sejarah yang ada di Dieng.

Artikel bertopik sejarah Dieng ini belumlah sempurna, Anda dapat membantu kami untuk melengkapi dan menambahkan daftar referensi.

Pendahuluan

Sejarah Dieng Mendengar kata Dieng, yang akan terlintas pada benak kita adalah sebuah dataran tinggi yang merupakan salah satu obyek pariwisata andalan 1) di Jawa Tengah. Dataran tinggi ini merupakan sebuah kawasan yang menyimpan banyak tempat wisata berbau aktivitas vulkanik, sejarah, dan alam, sehingga menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Selain wisatanya, Dieng tidak lepas dari budaya-budaya unik di tengah masyarakatnya yang hingga saat ini masih dijunjung dan dilestarikan dengan baik.

Dilihat dari sejarahnya, Dieng memiliki beberapa kisah dari mulai pendapat para ahli sejarah dan arkeolog, hingga kisah mitos yang berkembang di masyarakat. Para ahli berpendapat bahwa dataran tinggi Dieng telah dijelajahi oleh manusia pada 2000 tahun silam, atau bahkan lebih. Pada waktu itu bertepatan dengan orang-orang dari bangsa Kalingga-sebuah daerah di India selatan yang melakukan migrasi secara besar-besaran ke berbagai penjuru Asia.

Abad ke-6

Peninggalan bersejarah di Dieng Menurut sejarah, pada abad ke-6 terdapat sebuah kerajaan Kalinga 2) yang berdiri pada suatu wilayah di India Selatan. Kerajaan ini mengalami kekalahan pada peperangan melawan kerajaan Maurya Maharaja Ashoka. Kerajaan Ashoka merupakan kerajaan penganut agama Budha. Permulaan dari peperangan ini terjadi karena sebuah pengkhianatan, yang membuat Ashoka murka dan memaksa kerajaan Kalinga untuk tunduk di bawah kekuasaanya. Hal ini ditolak oleh kerajaan Kalinga, sehingga Kerajaan Ashoka menyerukan peperangan dan terjadilah perang terbesar yang belum pernah terjadi di India sebelumnya. Peperangan tersebut dimenangkan oleh kerajaan Ashoka dengan memporak-porandakan seluruh wilayah kerajaan Kalinga.

Kekalahan kerajaan Kalinga memaksa mereka untuk melakukan migrasi ke wilayah Nusantara, salah satunya pulau Jawa dengan perbekalan budaya. Di bawah kepemimpinan ratu Shima, kerajaan ini didirikan kembali dan diperkirakan terletak di Jawa Tengah, sebelah utara Gunung Maria dengan menganut kepercayaan Hindu-Budha. Seiring dengan berjalannya peradaban dalam kurun waktu tertentu, kerajaan Kalinga yang telah bergeser kepemimpinannya oleh Raja Sanjaya mendirikan dinasti Sanjaya di kerajaan Mataram Kuno.

Abad ke-11

Dharamsala komplek Kerajaan Mataram Kuno 3) berdiri pada abad ke-11 M, yang diperintah oleh dua dinasti berbeda yaitu dinasti Sanjaya dan dinasti Syailendra. Hingga pada akhirnya, dinasti Sanjaya sebagai penganut agama Hindu telah melanglang kerajaannya hingga wilayah Dieng dengan bukti-bukti peninggalan sejarah yang telah ditemukan, salah satunya yaitu kawasan Candi Dieng yang hingga saat ini masih bisa kita lihat sisa-sisa peninggalannya.

Sejarah Dieng menurut para ahli berjalan seiringan dengan mitos yang mengisahkan pemindahan kahyangan dari Gunung Meru di Jambudwipda (Himalaya) ke Dieng. Seorang Bahtara Guru yang dikenal dengan Hyang Jagadnata diidentifikasi sebagai Brahmana atau penguasa wilayah Jambudwipa yang memindahkan kahyangan Dewa ke Dieng. Dari sinilah konsep etimologi Dieng yang diambil dari dua kata dalam bahasa Sansekerta yaitu Ardhi yang berarti Gunung, dan Hyang yang berarti Dewa. Sehingga, tidak heran Dieng dikenal dengan sebutan negeri pada Dewa, yang juga sekaligus dianggap sebagai pingkalingganing bhuwana (pusat dunia). Terlepas dari mitos tersebut, wilayah Dieng memang dikaitkan dengan kebenaran yang menyatakan Dieng merupakan titik tengah dari Pulau Jawa.

Berdasarkan arkeologi India, gunung sebagaimana terungkap dalam kitab Vastusastra yang dianggap sebagai nirwana (surga) tempat tinggal para dewa. Tak ayal masyarakat India sebagai salah satu pembawa agama Hindu-Budha di Indonesia menyukai wilayah pegunungan yang dianggap sebagai tempatnya dewa yang mereka puja. Sehingga, dataran tinggi Dieng menjadi salah satu tempat pilihan mereka dalam bermukim. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan sejarah yang terdapat pada dataran tinggi Dieng seperti prasasti dan kawasan Candi Hindu.

Referensi


Page Tools