Wikipedieng Wikipedieng

Ensiklopedia di Hyang

User Tools

Site Tools


gunung-pakuwojo

Gunung Pakuwojo

Gunung Pakuwojo merupakan salah satu gunung yang masih berada di wilayah dataran tinggi Dieng. Gunung ini terletak di Desa Tieng dan sebagian wilayah juga masuk Desa Sembungan. Ketinggiannya mencapai 2.395 meter di atas permukaan laut Mdpl. Seperti gunung lainnya yang ada di Dieng, Gunung Pakuwojo memiliki bekas kapundan kawah berukuran besar yang dinamakan sebagai Telaga Wurung. Telaga ini berjumlah 2 buah dengan ukuran yang luas. Tidak ada aktivitas vulkanik di dalamnya karena telah mengalami letusan dalam kurun waktu yang sangat lama. Saat musim kemarau tempat ini kering dan ditumbuhi rumput ilalang yang lebat hampir sama dengan padang Savana Dieng yang berada di Gunung Pangonan. Saat musim penghujan tiba terkadang Telaga Wurung ini sering dipenuhi air, air tersebut akan mengalir ke sungai yang mengarah ke Desa Tieng dan ke Telaga Cebong.

Suhu udara yang bisa dirasa saat siang hari di Gunung Pakuwojo ialah sekitar 10°C - 15°C dengan angin yang cukup kencang dan pada malam hari sekitar 3°C - 9°C bahkan bisa mencapai nol derajad ketika musim kemarau tiba namun di area Gunung Pakuwojo ini tidak ditumbuhi embun upas seperti di area Candi Arjuna meski lokasinya lebih tinggi.

Arti nama

Gunung Pakuwojo memiliki tekstur puncak yang khas yaitu ada batu besar runcing bentuknya mirip seperti sebuah paku. Batu ini terletak diantara dua buah telaga wurung. Nah nama Pakuwojo diambil dari tekstur puncak Gunung Pakuwojo yaitu dari kata “paku” dan “Wojo” berarti paku baja. Wilayah Gunung Pakuwojo diliputi oleh banyak bebatuan. Konon dari gunung inilah batu-batu candi Dieng itu diambil.

Alternatif sunrise Dieng

Gunung Pakuwojo terletak di sebelah Gunung Sikunir yang terkenal dengan view sunrise nya. Gunung ini memiliki ketinggian yang lebih dari Sikunir jadi bisa juga sebagai tempat alternatif untuk menyaksikan matahari terbit. Ketika Sikunir sedang penuh, pengunjung bisa menyaksikan sunrise dari Gunung Pakuwojo agar tidak berdesak-desakan namun juga mendapatkan pemandangan yang lebih indah diantaranya Gunung Sindoro, Gunung Nganjir, Gunung Ungaran, Gunung Prau, area pertanian, pedesaan serta lembah. Namun untuk menyaksikan fenomena matahari terbit dari puncak Pakuwojo wisatawan perlu mendaki bukit setidaknya selama 1,5 jam perjalanan.

Pos pendakian

Meski peminatnya belum setinggi Gunung Prau, kini pengunjung sudah mulai banyak melakukan pendakian ke Gunung Pakuwojo sehingga dibuatlah beberapa jalur baru dan pos pendakiannya. Adapun pos pendakian yang bisa dilalui para pendaki adalah sebagai berikut.

  1. Pos pendakian via Desa Tieng
  2. Via Desa Parikesit
  3. Via Desa Sembungan
  4. Via Gunung Sikendil

Flora dan fauna endemik

Gunung Pakuwojo di dominasi oleh tumbuhan semak yaitu rumput ilalang. Selain ilalang yang rimbun dapat juga ditemukan tanaman keras yakni pohon Akasia dan pohon cemara gunung. Kemudian banyak ditemukan juga pakis haji, lumut paku. Sedangkan aneka bunga yang bisa ditemukan di Gunung Pakuwojo diantaranya adalah bunga api, bunga edelweis jawa, bunga turuwarna dan bunga kantong semar. Ada juga aneka buah yang bisa dimakan yaitu berupa buah beri dan buah cantingi ungu.

Selain aneka flora yang sudah disebutkan di atas, adapula beberapa jenis fauna atau hewan yang ada di Gunung Pakuwojo diantaranya adalah : babi hutan, burung kutilang, burung pentet, burung tekukur, burung jalak, burung gecu, burung depyak dan burung elang. Dulunya di sekitar gunung ini malah ditemukan hewan kijang atau rusa namun sekarang sudah punah.


Page Tools