Wikipedieng Wikipedieng

Ensiklopedia di Hyang

User Tools

Site Tools


gangsiran-aswatama

Gangsiran Aswatama

Membahas Dieng memang tidak akan ada habisnya, selain bangunan candi ternyata masih banyak terdapat warisan leluhur kita masa lalu yang perlu kita ketahui keberadaannya sebagai contoh yaitu Gangsiran Aswatama. Tempat ini sangat mudah dijangkau dan Anda temukan. Dari pertigaan Dieng yaitu di Desa Dieng wetan belok ke arah kanan melewati gapura perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Teruslah berjalan lurus hingga batas Desa Dieng Kulon menuju ke terminal pariwisata Dieng. Di tempat tersebut bisa kita lihat terdapat lubang besar mirip seperti sumur yang jumlahnya 2 buah. Kemungkinan dulunya berjumlah lebih dari dua buah namun dikarenakan tertimbun tanah atau pengolahan lahan pertanian menjadi tidak terlihat lagi. Lubang sumur ini berada di tepi jalan sebelah kiri yang masih berada di jalan lingkar Dieng.

Jaraknya juga tidak jauh dari komplek Candi Arjuna yaitu hanya kurang lebih 500 meter dan lokasinya dekat dengan Candi Setyaki. Sekilas memang lubang ini tidak ada fungsinya, namun ternyata lubang yang memiliki panjang garis tengah kurang lebih 3 meter tersebut memiliki andil besar dalam upaya pengeringan area candi Dieng yang ditemukan pada tahun 1.814 silam. Ada berbagai usaha untuk pengeringan wilayah candi yang terendam air diantaranya membuat aliran sungai dalam tanah dan membuat lubang-lubang raksasa.

Ada dua pendapat yang digagas oleh para peneliti jikalau Gangsiran Aswatama dibuat sebelum dibangunnya candi dan adapula yang menyatakan bahwa gangsiran ini dibuat setelah adanya candi. Jika Gangsiran Aswatama dibuat sebelum candi ini di bangun tentu sangat bertentangan dengan konsep Vastu shastra yaitu ilmu arsitektur tradisional Hindu. Konsep tersebut memiliki beberapa aturan diantaranya tempat yang digunakan untuk membangun candi harus ada beberapa kriteria salah satunya adalah harus dekat dengan mata air atau telaga. Tentu Telaga yang berada di sekitar candi Arjuna( Telaga Balekambang) yang sudah ada sejak jaman dulu sebelum candi di buat.

Kemudian karena ada suatu tragedi ataupun kejadian alam yang dahsyat sebagai contoh letusan gunung berapi yang menyebabkan air telaga meluap hingga ke area bangunan candi, inilah kemungkinan besar mengapa candi Dieng ketika ditemukan pertama kali saat masih dikuasi pemerintah Hindia Belanda terendam air. Kemudian ada usaha pemerintah kala itu untuk menyelamatkan candi dengan cara membuat lubang-lubang besar untuk mengeringkan air. Tentu ada alasan mengapa dibuat terowongan bawah tanah dan tidak buat sungai besar karena di area ini dulu banyak terdapat peninggalan sejarah yang sangat banyak sehingga jika dibuat terowongan bawah tanah tidak akan merubah tatanan peninggalan lama tersebut.

Kini Gangsiran Aswatama sudah dikelola dengan baik oleh dinas pariwisata Banjarnegara dengan membuat bangunan seperti gazebo diatasnya sebagai upaya untuk melestarikan dan melindungi peninggalan sejarah tersebut. Kemudian di lingkungan sekitar Gangsiran Aswatama juga dibuat taman mini yang rapi sehingga pengunjung bisa betah untuk berlama-lama ditempat ini. Tempat wisata ini merupakan salah satu destinasi gratis yang bisa dikunjungi wisatawan.

Legenda

Menurut cerita orang jaman dulu, Gangsiran Aswatama di ambil dari cerita pewayangan. Gangsiran tersebut merupakan terowongan yang digunakan oleh Raden Aswatama saat ingin menculik Raden Parikesit. Raden Aswatama merupakan anak dari Raden Durno dan Raden Parikesit merupakan cucu dari Raden Arjuna. Namun aksi penculikan tersebut tidak berhasil karena di kamar Parikesit penjagaannya sangat ketat, kemudian Raden Aswatama terbunuh oleh panah Arjuna di dalam terowongan tersebut.

Berdasarkan cerita di atas terowongan yang ada di Dieng mirip dengan galian yang dibuat Raden Aswatama di dalam cerita Epos Mahabarata sehingga orang kuno jaman dulu menamakan lubang di area wilayah purbakala tersebut sebagai Gangsiran Aswatama. Secara kebetulan, disebelah tenggara pusat candi Dieng yang jaraknya kurang lebih 2,5 km juga terdapat sebuah desa yang dinamakan dengan Desa Parikesit.


Page Tools