{"id":2438,"date":"2020-09-17T06:28:00","date_gmt":"2020-09-16T23:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/?p=2438"},"modified":"2023-07-03T16:50:27","modified_gmt":"2023-07-03T09:50:27","slug":"4-pemimpi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/4-pemimpi\/","title":{"rendered":"4 Pemimpi dari Negeri di Atas Awan"},"content":{"rendered":"\n<div style=\"text-align:left; background-color:#efefef; border:1px solid #ccc; padding:20px;box-shadow: 5px 10px #888888;\">\n<ul><li>Judul: <strong>4 Pemimpi dari Negeri di Atas Awan<\/strong><\/li><li>Penulis: <strong>Siwi Hanna<\/strong> <ul><li>Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (<strong>MMTC<\/strong>) Yogyakarta, jurusan Manajemen Informasi dan Komunikasi.<\/li><\/ul><\/li><li>(<em>Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan<\/em>)<\/li><\/ul><\/div><br><br>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Di sebuah puncak bukit bernama Sikunir, senja di ufuk barat mengantarkan matahari untuk kembali menuju peraduannya. Seorang pemuda terlihat berdiri mengenakan kaos berlambang kepolisian yang tertempel pada dada sebelah kanan. Sebelum akhirnya menyadari kedatangan dua pemuda lainnya yang dengan sengaja mengagetkan dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cKalian terlambat! Apa perlu sekolah kepolisian dulu untuk bisa tepat waktu?\u201d, kata lelaki berkaos kepolisian yang bernama Lukman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cHahaha, iya-iya, maaf. Maafin aku yang cuma biasa duduk di depan komputer dan menulis ini. Kakiku sudah tidak cukup kuat\u201d, kata lelaki yang bernama Hendri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cAh, tidak usah merendah. Tidak apa kakimu sudah tidak cukup kuat, yang penting tanganmu masih bisa terus menulis dan menciptakan karya-karya baru lagi. Siapa yang tidak kenal kamu, namamu sudah banyak terbaca pada sampul-sampul buku hasil tanganmu sendiri\u201d, kata lelaki bernama Bedu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cKamu bisa aja. Terima kasih juga dok! Kini berkat rumah sakit yang berhasil kamu bangun, desa kita memiliki kualitas kesehatan yang baik\u201d, jawab Hendri memuji Bedu kembali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cWoiiiiiii!!!\u201d, terdengar suara teriakan dari arah bawah yang tidak jauh dari puncak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dengan nafas yang belum stabil, lelaki itu berjalan menuju ke arah tiga temannya yang sudah berkumpul lebih dulu. Lukman, Hendri, dan Bedu sontak tertawa melihat lelaki dihadapannya masih menggunakan kemeja putih lengkap dengan jas, dasi, celana, dan sepatu hitam yang mengkilat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cHah..hah.. Maaf, aku telat. Pesawatku delay dan aku belum sempat ganti baju. Jadi aku langsung ke sini, takut kalian terlalu lama menunggu\u201d, jelas lelaki yang bernama Joko.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cNgapapa kok, kita paham kamu pasti sangat sibuk. Seorang pengusaha yang kini bisnisnya sudah keluar hingga mancanegara\u201d, jawab Lukman dengan sedikit tawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Lengkap sudah pertemuan keempat sahabat tersebut. Mereka berpelukan satu sama lain dan membayar tuntas rasa rindu. Bedu, Joko, Hendri, dan Lukman adalah empat orang manusia yang lahir di sebuah desa tertinggi di Dataran Tinggi Dieng 25 tahun silam. Di tengah hamparan awan, Desa Sembungan telah mengantarkan keempat bayi lekaki tersebut menuju mimpi dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Semburat jingga beradu dengan rona langit yang mulai gelap. Terlihat sorot binar mata keempat lelaki memantulkan sinar sebelum akhirnya berpindah ke cahaya bulan. Mereka bersandar pada sebuah pohon dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Menikmati ribuan bintang yang bertabur menghias langit malam. Jutaan cahaya berkelip dari bawah sana, rumah-rumah penduduk, bangunan-bangunan, dan kendaraan yang berlalu lalang. Tak hanya itu, kilauan air dari Telaga Cebong di bawah kaki bukit menambah eksotisme suasana malam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cHei, kapan ya terakhir kali kita ke bukit ini?\u201d, tanya Bedu membuyarkan lamunan teman-temannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSMA bukan? Kelas 12 sebelum kita Ujian Nasional?\u201d, jawab Hendri dengan mata memicing ke atas mengingat kejadian itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cOh iya! Iya!\u201d, sahut Bedu, Joko, dan Lukman yang juga teringatkan akan hal itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cHari itu adalah hari terakhir kita berkumpul di sini sebelum akhirnya kita meninggalkan desa ini dan pergi ke kota orang dengan mimpi masing-masing\u201d, jelas Lukman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size wp-block-paragraph\"><strong>***<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Selama hampir 10 tahun, Bedu, Joko, Hendri, dan Lukman telah menghabiskan masa kecil dan remaja bersama-sama. Mereka memiliki sebuah tempat di atas puncak bukit sebagai markas singgah untuk berbagi mimpi dan keluh kesah. Keempat bocah itu dipertemukan pada bangku kelas 1 SD dalam satu ruang. Karena letak rumah keempatnya tidak terlalu jauh, mereka biasa bergegas dan pulang dari sekolah bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sepulang sekolah, mereka akan bergegas menuju rumah untuk berganti baju dan makan siang. Lalu pada persimpangan jalan, keempat sahabat itu akan bertemu kembali untuk bersama-sama mencari batu kerikil di pinggir sungai yang akan mereka jual pada wisatawan di objek wisata Sumur Jalatunda. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cAku udah dapat banyak kerikil nih!\u201d, seru Joko sembari mengangkat karung kecilnya yang sudah terisi penuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSebentar lagi punyaku penuh juga\u201d, jawab Lukman tak mau kalah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cHari ini kita ngga boleh pulang terlalu malam ya. Kalian ingat kan ada PR matematika untuk besok?\u201d, Hendri yang paling pintar dalam urusan sekolah mengingatkan ketiga temannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cIngat kok. Nanti malam kita kerjain bareng aja di rumahku. Kakakku kan bisa ngajarin\u201d, usul Bedu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cOkee!!\u201d, jawab ketiga temannya setuju.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Seusai mengarungi banyak kerikil, di bawah terik matahari kaki-kaki kecil mereka melangkah dengan menggotong harapan sederhana yaitu hari ini kerikil yang mereka bawa bisa banyak terjual. Dengan langkah pasti, kaki kecil mereka sudah terbiasa menapakki anak tangga menuju saung Sumur Jalatunda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Mereka menjajakan kerikil pada wisatawan yang berkunjung. Tak jarang, turut mengaminkan segala permohonan dan doa yang terlempar bersama batu ke dalam sumur. Sinar mentari kini sudah mulai bergeser ke ufuk barat. Seperti biasa, keempat sahabat itu juga akan selalu mencoba melemparkan batu setiap hari mengajukan permohonan dan mimpi-mimpi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cMimpiku adalah ingin menjadi seeorang dokter yang hebat! Kelak aku ingin menyelamatkan orang-orang dari rasa sakit agar kembali sehat. Aku ingin memiliki rumah sakit sendiri yang aku bangun dari uang hasil kerjaku sebagai dokter. Dan terakhir, aku ingin membelikan Bapak dan Ibu rumah yang lebih nyaman untuk berteduh agar tidak ada lagi genteng bocor saat hujan\u201d, seru Bedu sembari melemparkan kerikil ke arah sumur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cMimpiku adalah ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses! Kelak aku ingin memiliki banyak uang dan bisa membeli apapun yang aku mau. Aku ingin kuliah jurusan ekonomi di universitas terbaik di negeri ini. Dan terakhir, aku ingin membelikan Bapak sepetak sawah kentang agar tak perlu lagi bekerja di lahan orang\u201d, seru Joko sembari melemparkan kerikil ke arah sumur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cMimpiku adalah ingin menjadi seorang penulis yang terkenal! Kelak aku ingin karya-karyaku dibaca oleh banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Aku ingin setiap bukuku ada di rak-rak perpustakaan dunia. Dan terakhir, aku ingin membangun sebuah warung untuk Ibu agar ia tak perlu repot berjualan sayur keliling kampung\u201d, seru Hendri sembari melemparkan kerikil ke arah sumur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cMimpiku adalah ingin menjadi seorang polisi yang hebat! Kelak aku ingin membasmi segala bentuk kejahatan yang ada di negeri ini. Aku ingin melihat negeri yang aku cintai selalu dalam keadaan damai dan dihuni orang-orang baik. Dan terakhir, aku ingin membelikan orang tuaku motor agar mereka tak perlu lagi menggunakan motor tua yang sudah usang untuk pergi\u201d, seru Lukman sembari melemparkan kerikil ke arah semur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Seluruh mimpi telah disebutkan. Mereka tertawa lepas dan saling merangkul satu sama lain. Empat bocah dengan mimpi-mimpinya yang berbeda. Kehidupan mereka yang sederhana, membawa mereka pada sosok yang lebih dewasa dari anak seusianya. Tentu saja, keempat sahabat itu tidak sepenuhnya percaya pada mitos Sumur Jalatunda yang bisa mengabulkan doa. Mereka melakukannya hanya untuk sekedar bersenang-senang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cAyo pulang! Udah sore nanti Ibu khawatir\u201d, ajak Hendri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cBenar, ayo! Mampir ke sungai sebentar ya, aku mau cuci kaki\u201d, pinta Lukman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Mereka berjalan ke arah sungai dengan riang. Hasil penjualan batu kerikil memang tak pernah seberapa. Tetapi dalam hati mereka selalu ada rasa syukur yang tak terukur. Sahabat-sahabat yang baik adalah salah satu bentuk rezeki yang diberikan Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Percikan air memantulkan sinar cahaya senja. Mereka saling mencipratkan air dan membasahi baju satu sama lain. Sebesar apapun mimpi keempat sahabat tersebut, mereka hanyalah bocah SD dengan segala tawa dan bahagia yang tidak ingin dilewatkan begitu saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cJangan lupa, selepas sholat isya ke rumahku ya!\u201d, kata Bedu mengingatkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSiap bos\u201d, jawab ketiga temannya yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cBalapan lari yuk! Yang pertama sampai ke persimpangan, dia yang menang\u201d, ajak Hendri menantang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSiapa takut. Satu&#8230; Dua&#8230; Tiga&#8230;!\u201d, seru Joko memberi aba-aba.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Mereka berlari sekencang mungkin untuk mendapatkan gelar juara. Di setiap langkah mereka membawa sejuta mimpi untuk menaklukkan dunia. Di sebuah desa yang disebut manusia lain sebagai Negeri di Atas Awan, keempat sahabat tersebut akan terus berlari dan berlari lebih kencang lagi untuk mencapai awan tertinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Selepas masa Sekolah Dasar, Bedu, Joko, Hendri dan Lukman melanjutkan pendidikannya di SMP dan SMA Negeri. Mereka sudah lebih jarang menghabiskan waktu untuk bermain, karena lebih fokus pada pelajaran yang kian sulit dipahami. Mereka masih sesekali berkumpul di markas atas bukit untuk mengerjakan PR dan belajar bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Satu minggu sebelum memasuki Ujian Nasional SMA, keempat sahabat sepakat untuk berkumpul di markas. Hari itu sudah malam. Riuh angin menyapa bersahutan dengan suara gesekan ranting pohon. Dengan mata yang saling menatap satu sama lain, mereka menceritakan mimpi-mimpi yang belum berubah sedari kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cJika kelak impianku sebagai penulis terwujud, aku berjanji. Kalian akan menjadi orang pertama kali yang akan membaca buku pertamaku\u201d, kata Hendri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSelepas lulus SMA, aku akan kuliah di UI jurusan ekonomi. Dan lihat saja, aku pasti akan kembali sebagai pengusaha yang sukses\u201d, kata Joko<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSaat kalian kembali nanti, kalian pasti akan terkejut melihat sebuah Rumah Sakit sudah berdiri di desa kecil kita ini\u201d, kata&nbsp; Bedu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cKalian jangan coba-coba melakukan kejahatan atau akan aku tangkap sebelum kalian sempat kembali ke desa ini\u201d, kata Lukman yang disambut gelak tawa dari ketiga sahabatnya yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Mereka saling tersenyum dan mengamini setiap kalimat mimpi yang terucap dari bibir keempat sahabat itu. 7 tahun berlalu, Bedu, Joko, Hendri, dan Lukman melanglang ke kota orang untuk kuliah di jurusan dan universitas yang mereka impikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Selepas lulus kuliah, mereka masih disibukkan oleh banyak hal baru yang harus dihadapi. Hujan dan badai tak pernah menyurutkan semangat keempatnya. Sedari kecil keempat sahabat itu telah berusaha mewujudkan mimpi yang mereka punya dengan segala ikhtiar dan doa. Kini, mereka telah kembali berkumpul di markas puncak bukit Sikunir dan menceritakan semua perjalanan mereka menggapai mimpi-mimpinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size wp-block-paragraph\"><strong>***<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Hembusan angin kian terasa dingin menerpa keempat sahabat itu. Tidak terasa, waktu begitu cepat memaksa mereka untuk kembali pulang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cInget nggak kita suka lomba lari saat kecil? Tertarik untuk mencoba lagi?\u201d, tantang Hendri yang jelas-jelas sudah mengakui kakinya tidak cukup kuat lagi untuk berlari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cAku nggak takut dan aku yakin pasti aku menang\u201d, pamer Lukman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cTidak perlu banyak bicara. Ayo kita buktikan saja siapa yang akan menang\u201d, tukas Bedu tidak percaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cOke, satu.. dua.. tiga!\u201d, seru Joko.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keempat sahabat tersebut berlari ke arah persimpangan. Dan benar saja, Lukman menjadi orang pertama yang sampai disusul oleh Bedu dan Joko. Seperti yang diperkirakan sebelumnya, Hendri bahkan sudah tidak berlari sejak setengah jalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cApakah ini artinya kita akan berpisah kembali?\u201d, tanya Lukman dengan raut sedih di wajahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cYa. Tapi, perjalanan kita belum usai sampai di sini. Sampai jumpa kembali dengan mimpi dan kesuksesan yang lain teman-temanku\u201d, jawab Hendri dengan tak kalah sedih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keempat sahabat itu akhirnya menggandeng tangan satu sama lain dan berjanji untuk berkumpul kembali suatu saat nanti. Terlahir di desa bukan menjadi alasan bagi mereka untuk tidak menggapai mimpi dunia. Bedu, Joko, Hendri, dan Lukman, 4 pemimpi dari Negeri di Atas Awan yang akan terus berusaha untuk menembus awan tertinggi.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"navbar\">\n<a href=\"\/dieng\/cerpen\/\"><i class=\"fa fa-book\"><\/i> Baca Cerpen lainnya di Wikipedieng<\/a>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul: 4 Pemimpi dari Negeri di Atas Awan Penulis: Siwi Hanna Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta, jurusan Manajemen Informasi dan Komunikasi. (Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan) Di sebuah puncak bukit bernama Sikunir, &#8230; <a title=\"4 Pemimpi dari Negeri di Atas Awan\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/4-pemimpi\/\" aria-label=\"Read more about 4 Pemimpi dari Negeri di Atas Awan\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-2438","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2438","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2438"}],"version-history":[{"count":16,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2438\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2470,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2438\/revisions\/2470"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2438"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2438"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2438"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}