{"id":2185,"date":"2020-09-14T05:35:51","date_gmt":"2020-09-13T22:35:51","guid":{"rendered":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/?p=2185"},"modified":"2023-07-03T16:51:17","modified_gmt":"2023-07-03T09:51:17","slug":"cara-arya-menyembuhkan-luka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/cara-arya-menyembuhkan-luka\/","title":{"rendered":"Cara Arya Menyembuhkan Luka"},"content":{"rendered":"\n<div style=\"text-align:left; background-color:#efefef; border:1px solid #ccc; padding:20px;box-shadow: 5px 10px #888888;\">\n<ul><li>Judul: <strong>Cara Arya Menyembuhkan Luka<\/strong><\/li><li>Penulis: <strong>Siwi Hanna<\/strong> <ul><li>Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (<strong>MMTC<\/strong>) Yogyakarta, jurusan Manajemen Informasi dan Komunikasi.<\/li><\/ul><\/li><li>(<em>Cerita ini hanya fiktif belaka<\/em>)<\/li><\/ul><\/div><br><br>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Arya, lelaki berperawakan cukup tinggi dengan wajah yang tegas. Rambutnya gondrongnya tergerai. Seorang mahasiswa semester 4 di salah satu Universitas di kota Wonosobo. Penikmat kopi dan pecandu rokok. Terlihat dari tubuhnya yang kurus dan bibir hitamnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cBodoh!\u201d batin Arya memaki diri sendiri, sambil menghisap dalam-dalam rokok surya yang hampir sampai pada filterya. Yah, sekitar 4 cm lagi mungkin. Dihempaskannya puntung rokok itu dengan jari telunjuk hingga terjatuh jauh dari tempat ia duduk di teras depan rumahnya. Kemudian muncul percikan bara merah setelah menghantam cukup keras tanah kering di pelataran rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Arya melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Hampir tengah malam. Keadaan sekitar sangat sunyi. Hanya terdengar riuh angin yang bersahutan dengan suara jangkrik. Cahaya bulan terlihat terang, bintang bertaburan menghiasi langit hitam. Sempurna. Namun tidak sejalan dengan hati Arya yang baru saja kehilangan seseorang yang sudah ia anggap sebagai bagian dari dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sesekali dingin menyapa lirih Arya, lalu bergegas pergi begitu saja. Dalam balutan kaos pendek berwarna hitam yang ia kenakan sejak tadi pagi, Arya bahkan tidak merasakan ujung kukunya sudah mulai membiru. Ia mengambil ponsel berwarna hitam miliknya yang tergeletak tepat disamping cangkir kopi sekarat yang sudah menyisakan ampas hitam pekat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dinyalakannya layar ponsel. Tangan kirinya mengepal kencang. Sorot matanya memerah. Seperti ada sesuatu yang terperangkap dalam dadanya, Arya merasakan sesak. Ia Menggigit bibir bawah, menggumam, dan berulang kali menggelengkan kepala seolah tidak terima dengan sesuatu yang harus ia terima saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Arya larut dalam emosi yang rancu. Berhamburan tidak jelas arahnya. Marah, kecewa, sedih, gelisah. Semuanya mengejek habis sisa kewarasannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size wp-block-paragraph\"><strong>***<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keesokan paginya ia terbangun lebih 20 menit dari yang seharusnya. Tiba-tiba ponsel yang entah keberadaannya di mana bergetar kencang. Setelah menemukannya di bawah bantal, saat hendak&nbsp; meraihnya getaran tersebut berhenti. \u201cSial!\u201d, batin Arya. Tiga panggilan tak terjawab dari sahabat yang sekaligus teman kuliahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cKenapa?\u201d, isi pesan singkat yang dikirim melalui aplikasi Whatshap. Tidak berselang lama ponselnya kembali bergetar, lalu diangkatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cWoi bangun dasar kebo!!\u201d, teriak seseorang dari balik ponsel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cIya-iya ini udah bangun\u201d, balas Arya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cHalah baru bangun kan kamu! Ini udah jam berapa? Sebentar lagi kita rapat koordinasi!!\u201d, maki teman Arya dari seberang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cSabar! Sebentar lagi otw\u201d, jawab Arya mencari alasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sambungan telepon diakhiri oleh Arya. Ia Nampak menghela napas panjang saat melihat sinar mentari sudah mengetuk jendela kamarnya, kemudian begegas ke kamar mandi. Sebenarnya hari ini libur, tidak ada kelas membosankan. Makanya Arya tidak merasa harus bangun pagi, terlebih semalam ia juga habis larut dalam kegundahan yang membuatnya susah untuk tidur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Jarak antara rumah Arya menuju lokasi tempat diadakannya rapat cukup jauh, kurang lebih &nbsp;membutuhkan waktu 45 menit menggunakan sepeda motor. Dengan vespa matic berwarna putih kesayangannya, ia menghujam aspal dengan kecepatan penuh. Sesampainya di lokasi, terlihat sudah lengkap anggota organisasi ekstra kampus yang berkumpul sebanyak 14 orang ditambah Arya menjadi 15 orang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cYaelah si kebo nyampe juga akhirnya\u201d, ucap salah seorang yang berambut kribo mengunakan kacamata minus bulat berwarna silver. Kulitnya kuning langsat dengan perawakan sedang. Rambut kribonya menjadi ciri yang dipunya, itulah mengapa ia sering dipanggil dengan sebutan \u2018kribo\u2019 oleh teman-temannya. Siapa lagi kalau bukan sahabat Arya yang sudah berbaik hati mengingatkan acara penting ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cBrisik!\u201d, tukas Arya menanggapi orang tersebut sambil melepas sepatu. Ia berjalan masuk sambil menyalami semua anggota yang sudah berkumpul termasuk orang tadi. Kemudian duduk disebelahnya. 15 orang terdiri dari 7 perempuan dan 8 laki-laki dengan segala posisi duduk ternyaman menurut mereka. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Tentunya cangkir-cangkir kopi, teh, asbak rokok dan kepulan asap adalah hal yang lumrah di sana. Meski kadang para perempuan mengibas-ngibas asap yang datang ke arah mereka menggunkan tangan lalu menutup hidung mereka sambil menggerutu. Itu adalah kesan yang biasa namun lucu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cOke mohon perhatiannya, berhubung Arya sudah datang maka kita akan segera melangsungkan rapat koordinasi terkait acara malam keakraban untuk mahasiswa baru yang sempat tertunda tadi\u201d, ucap Kribo sambil melirik ke arah Arya, yang direspon dengan baik oleh anggota lain, tentunya mereka serentak mematikan rokok, membenarkan posisi duduknya lalu sekilas menatap Arya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Reflek mungkin, atau karena jenuh menunggu kehadirannya yang baru saja tiba setelah ditunggu berjam-jam lamanya. Itu membuat Arya malu namun disembunyikan dengan sikap sok acuhnya. Apalagi dia adalah kepala bidang perkaderan yang tentunya selalu mendapat sorotan dari para anggota yang lain dikomisariat termasuk senior-seniornya diranah cabang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Rapat berlangsung sekitar 4 jam lamanya, melalui perdebatan yang keras dan argumen-argumen matang karna didasari data yang faktual. Betapa Arya sangat tidak nyaman dengan rapat tersebut, bukan karena tidak memahami materi melainkan karna kekalutan semalam dan kurang tidur membuat ia tidak bisa berkonsentrasi dan lebih banyak diam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cAr!\u201d, panggil Kribo sambil menepuk pundak Arya yang tengah menghisap sebatang surya di atas motor vespa putih miliknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cKenapa lagi Bam?\u201d, tanya Arya kearah Kribo yang bernama asli Bambang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cAda masalah? Sama cewekmu?\u201d, tanya Bambang penasaran sambil menyalakan sebatang rokok yang diambil dari dashboar motor milik Arya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cYaaaa gitu\u201d, jawab singkat Arya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cPantesan pas rapat kamu banyak bengong, masalah apa sih cerita dong!\u201d, pinta Bambang yang dengan tepat menebak masalah sahabatnya tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cPanjang ceritanya, nggak selesai sekarang kalo diceritain\u201d, jawab Arya enggan mengingatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cNggak apa-apa, aku dengerin kalaupun sampai tahun depan\u201d, &nbsp;ucap Bambang yang berusaha menghibur Arya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cDia minta putus. Alasannya ngga jelas, dan pergi gitu aja\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cLah, terus gimana?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cGimana apanya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cYaa hubungan kamu lah, kamu masih mau ngejar orang yang jelas-jelas hatinya bukan buat kamu lagi?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cTau ah pusing, jomblo kesepian, sekalinya punya cewek malah nggak berperikepacaran\u201d, ucap Arya sambil menylentik putung rokoknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cBuset ngutip dari mana tu perikepacaran?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cDari ucapan Raditya Dika dicerpennya yang berjudul GERIMIS\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cLah sejak kapan kamu suka baca cerpen?\u201d, tanya Bambang lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cBanyak nanya deh!\u201d, bentak Arya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cKalem dong, gimana kalo kita muncak ke gunung aja?\u201d, tawar Bambang &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cGunung apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cGunung Prau. Menurut buku yang pernah aku baca, mendaki adalah salah satu cara terbaik untuk menepis patah hati. Selain deket,&nbsp; Prau kan juga ngga tinggi-tinggi amat. Ayolah\u201d, bujuk Bambang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Arya menghembuskan nafas panjang. Sebenarnya ada rasa malas dalam dirinya. Tapi melihat sahabatnya yang berusaha keras menghibur, akhirnya diiyakan tawaran tersebut. Meski sebenarnya, mendaki gunung adalah pengalaman pertama bagi Arya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Arya dan Bambang mulai berangkat menuju basecamp terdekat keesokan harinya. Setelah mempersiapkan alat dan bekal yang harus dibawa, vespa putih milik Arya melaju kurang lebih 1 jam dengan kecepatan sedang. Selepas ashar, keduanya mulai menaklukkan jalanan yang cukup curam. Semburat jingga mulai tenggelam, dan masih tersisa setengah lagi perjalanan menuju puncak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Kedua sahabat itu sesekali berhenti untuk menstabilkan deru nafas. Menikmati taburan bintang yang terlihat sangat dekat hingga rasanya bisa tergenggem. Sepanjang perjalanan mereka bercanda dan tertawa lepas. Arya merasakan dadanya kini sudah tak sesesak kemarin lusa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cBam, masih jauh?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cEnggak, mungkin setengah perjalanan lagi\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cAku capek. Kita nggak bisa mendirikan tenda di sini aja?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cDasar lemah! Ayolahhh\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keduanya menenggak air dalam kemasan, sebelum akhirnya melanjutkan kembali perjalanan. Angin malam menyapu peluh keduanya. Bambang mengambil senter di sisi kanannya, dan menyeret tangan Arya yang hampir menyerah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sesampainya di puncak Prau, mereka mendirikan tenda berkapasitas 3 orang. Dingin angin menusuk tulang. Kopi panas, mi instan rebus, dan rokok, membawa keduanya lelap dalam tidur setelah hampir 3 jam menuju puncak tertinggi di Dieng.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sekitar jam 2 pagi, Arya dan Bambang sudah terbangun karena tidak kuat menahan dingin. Mereka memutuskan untuk tidak tidur lagi menunggu sang jingga menampakkan diri. Terlihat, garis keemasan dan biru membentang membelah langit. Mereka keluar dari tenda dan mencari tempat terbaik untuk menyaksikan karya Tuhan itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cJodoh itu memang lucu, orang yang sekarang bersamamu belum tentu sama dimasa depan\u201d, ucap Bambang yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Arya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cYa, begitulah\u201d, jawab Arya dengan sedikit tawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Matahari sudah mulai keluar dari peraduannya. Mata Arya tak bisa berhenti terkesima. Bentangan awan yang dihunus dua puncak gunung Sindoro dan Sumbing itu kini perlahan menampilkan karya bak lukisan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cIngat!!! Aku! Arya Saputra! Di atas puncak gunung Prau! Disaksikan oleh &nbsp;dua puncak &nbsp;gunung yang tegak di hadapanku! Menyatakan kemerdekaan sebagai manusia independen dan memutuskan untuk mengakhiri keterikatan atas dasar cinta! Sampai benar-benar menemukan seseorang yang tepat diwaktu yang tepat pula!!!\u201d, ucap Arya lantang membuat pernyataan yang begitu tiba-tiba. Mengagetkan Bambang yang bergumam lirih namun menyimpan senyum tipis disela nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">\u201cHahahahahaha\u201d, tawa lepas bambang yang tidak kuat menahan kekonyolan yang diperlihatkan Arya. Mereka tertawa bersama dan saling merangkul satu sama lain di bawah semburat cahaya mentari pagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Kini hati Arya terasa lebih lapang. Sesuatu yang menghalangi jalan nafasnya perlahan hilang. Tidak ada yang lebih baik dari mengikhlaskan sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk dirinya. Senyum di wajahnya sudah terukir sempurna. Matanya terpejam, dan melepaskan segala kegelisahan yang telah ia pendam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size wp-block-paragraph\"><strong>***<\/strong><\/p>\n\n\n\n <div class=\"navbar\">\n<a href=\"\/dieng\/cerpen\/\"><i class=\"fa fa-book\"><\/i> Baca Cerpen lainnya di Wikipedieng<\/a>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul: Cara Arya Menyembuhkan Luka Penulis: Siwi Hanna Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta, jurusan Manajemen Informasi dan Komunikasi. (Cerita ini hanya fiktif belaka) Arya, lelaki berperawakan cukup tinggi dengan wajah yang tegas. Rambutnya gondrongnya tergerai. Seorang mahasiswa semester 4 di salah satu Universitas di kota Wonosobo. Penikmat kopi dan pecandu &#8230; <a title=\"Cara Arya Menyembuhkan Luka\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/cara-arya-menyembuhkan-luka\/\" aria-label=\"Read more about Cara Arya Menyembuhkan Luka\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-2185","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2185"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2185\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2204,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2185\/revisions\/2204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.wikipedieng.com\/dieng\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}