Kisah Putri Daisy

Diposting pada

Cepren Wikipedieng – Kisah Putri Daisy

  • Judul: Kisah Putri Daisy
  • Penulis: Siwi Hanna
    • Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta, jurusan Manajemen Informasi dan Komunikasi.
  • (Cerita ini hanya fiktif belaka)


Alkisah, di sebuah daerah dataran tinggi tinggallah Raja dan Ratu di istana. Di bawah kepemimpinannya, daerah tersebut sangat makmur. Tanahnya yang subur mampu menghidupkan berbagai jenis tanaman. Rakyatnya hidup sejahtera dengan bercocok tanam sayur mayur.

Raja dan Ratu memiliki seorang Putri nan sangat jelita bernama Daisy. Seelok nama dan parasnya, Putri Daisy juga memiliki sikap yang ceria, tulus, dan setia. Siapapun yang bertemu denganya, pasti akan jatuh hati pada tatapan mata pertama.

Putri Daisy memiliki rambut hitam yang panjang, kulit seputih susu, sepasang bola mata bak sinar purnama, dan senyum yang lebih manis dari madu. Warna kesukaan putri adalah putih dan merah muda, sehingga hampir dari seluruh baju miliknya merupakan perpaduan dari kedua warna tersebut.

Kecantikan Putri sudah sangat terkenal hingga ke penjuru dunia. Banyak sekali pangeran yang berniat untuk meminangnya dan menjadikan putri sebagai bagian dari hidup mereka. Namun, hingga kini Raja dan Ratu belum memperbolehkan satupun pangeran menemui Putri Daisy.

“Esok adalah hari ulang tahunmu. Aku mengundang semua pangeran dari segala penjuru dunia yang ingin meminangmu. Kau bebas menentukan siapapun yang akan menjadi suamimu”, ucap raja pada putri saat makan malam.

“Baik, Ayah”, jawab putri patuh.

Pada keesokan hari, di ulang tahun Putri Daisy yang ke-17, istana menyelenggarakan acara yang dihadiri oleh seluruh rakyatnya. Selain itu, Raja juga mengundang pangeran dari seluruh dunia untuk datang ke acara ulang tahun putri dan memberikan kesempatan untuk mencoba meminangnya.

Raja dan Ratu memberikan kebebasan pada sang putri untuk mementukan pilihannya sendiri. Dibalut gaun putih yang terhias tali renda merah muda, Putri Daisy terlihat sangat cantik dan anggun hingga para tamu yang hadir tidak mampu mengedipkan mata barang sedetik.

“Kau cantik sekali putri, pantaslah dicintai semua orang”, kata Ratu memujinya.

“Ah, terimakasih Ibu”, jawab putri dengan tersipu.

Tibalah acara yang ditunggu-tunggu, yaitu para pangeran dari seluruh dunia berbaris rapi dan membawa barang terbaik yang mereka miliki sebagai hadiah untuk Putri Daisy.

“Selamat ulang tahun putri, terimalah mawar berkelopak emas yang aku ambil dari gunung tertinggi ini sebagai hadiah untukmu”, ucap pangeran pertama.

“Selamat ulang tahun putri, terimalah kalung dari mutiara yang aku ambil dari laut terdalam ini sebagai hadiah untukmu”, ucap pangeran kedua.

“Selamat ulang tahun putri, terimalah gaun berbahan sutera yang aku ambil dari kepompong terbaik ini sebagai hadiah untukmu”, ucap pangeran ketiga.

Begitu pula seterusnya hingga pangeran terakhir. Putri Daisy telah menerima semua hadiah dari para pangeran.

“Terimakasih semuanya, aku akan mengumumkan salah satu dari kalian yang akan menjadi suamiku esok hari”, ucap putri dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis haru.

Malam hari ketika Putri Daisy beranjak tidur, ia tak bisa memejamkam matanya. Otaknya belum menemukan satu jawaban yang harus ia umumkan esok hari. Pikirannya kacau, mengingat semua pangeran yang memberinya hadiah.

“Mereka terlalu sempurna. Semuanya memberikan hadiah terbaik dan bahkan keinginanku yang aku pikir hampir takkan pernah terwujud”, teriak putri frustasi.

Putri menangis, merasa dicintai oleh semua orang ternyata tidak menjadikan dirinya sempurna. Ia memutuskan untuk keluar istana dan berlari ke sebuah gunung tertinggi di daerah tersebut. Gaun putih dengan renda merah muda yang ia kenakan menyaruk tanah dan terseret ranting hingga robek di bagian bawahnya. Namun ia tak peduli, masih dalam keadaan menangis, kakinya melangkah menuju atas hingga puncak.

“Aku enggan hidup menjadi manusia! Semuanya yang ada pada diriku terlalu sempurna! Aku ingin membawa diriku pada semua makhluk di bumi!”, teriak putri pada angin malam.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Rambut dan gaun putri terbang tanpa arah, kakinya menahan diri agar tubuhnya tidak terbawa angin. Namun kaki sang putri tak cukup kuat, ia merasakan dirinya melayang di udara.

Perlahan-lahan, putri merasa tubuhnya terbelah-belah hingga menjadi partikel-partikel kecil berwarna putih setipis benang dan sepanjang semut. Tanpa sadar, dirinya telah hancur menjadi ribuan serbuk sari.

Terbawa angin, ribuan serbuk sari itu terbang dan mendarat di atas tanah memenuhi puncak gunung. Pada keesokan hari saat matahari mucul dari peraduannya, serbuk-serbuk itu tumbuh menjadi bunga berukuran mini. Kelopaknya ada yang berwarna putih dan ada pula yang berwarna merah muda.

Bunga-bunga itu tumbuh di hamparan tanah pada puncak gunung dan dikenal oleh orang-orang sebagai Bunga Daisy. Sesuai dengan keinginan putri, kini ia bisa dinikmati keindahannya oleh semua orang.

Hamparan Bunga Daisy bisa ditemukan pada gunung tertinggi di Dataran Tinggi Dieng, yaitu Gunung Prau.

***

Tinggalkan Balasan