Cara Arya Menyembuhkan Luka

Diposting pada
  • Judul: Cara Arya Menyembuhkan Luka
  • Penulis: Siwi Hanna
    • Penulis adalah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta, jurusan Manajemen Informasi dan Komunikasi.
  • (Cerita ini hanya fiktif belaka)


Arya, lelaki berperawakan cukup tinggi dengan wajah yang tegas. Rambutnya gondrongnya tergerai. Seorang mahasiswa semester 4 di salah satu Universitas di kota Wonosobo. Penikmat kopi dan pecandu rokok. Terlihat dari tubuhnya yang kurus dan bibir hitamnya.

“Bodoh!” batin Arya memaki diri sendiri, sambil menghisap dalam-dalam rokok surya yang hampir sampai pada filterya. Yah, sekitar 4 cm lagi mungkin. Dihempaskannya puntung rokok itu dengan jari telunjuk hingga terjatuh jauh dari tempat ia duduk di teras depan rumahnya. Kemudian muncul percikan bara merah setelah menghantam cukup keras tanah kering di pelataran rumah.

Arya melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Hampir tengah malam. Keadaan sekitar sangat sunyi. Hanya terdengar riuh angin yang bersahutan dengan suara jangkrik. Cahaya bulan terlihat terang, bintang bertaburan menghiasi langit hitam. Sempurna. Namun tidak sejalan dengan hati Arya yang baru saja kehilangan seseorang yang sudah ia anggap sebagai bagian dari dirinya.

Sesekali dingin menyapa lirih Arya, lalu bergegas pergi begitu saja. Dalam balutan kaos pendek berwarna hitam yang ia kenakan sejak tadi pagi, Arya bahkan tidak merasakan ujung kukunya sudah mulai membiru. Ia mengambil ponsel berwarna hitam miliknya yang tergeletak tepat disamping cangkir kopi sekarat yang sudah menyisakan ampas hitam pekat.

Dinyalakannya layar ponsel. Tangan kirinya mengepal kencang. Sorot matanya memerah. Seperti ada sesuatu yang terperangkap dalam dadanya, Arya merasakan sesak. Ia Menggigit bibir bawah, menggumam, dan berulang kali menggelengkan kepala seolah tidak terima dengan sesuatu yang harus ia terima saat itu.

Arya larut dalam emosi yang rancu. Berhamburan tidak jelas arahnya. Marah, kecewa, sedih, gelisah. Semuanya mengejek habis sisa kewarasannya.

***

Keesokan paginya ia terbangun lebih 20 menit dari yang seharusnya. Tiba-tiba ponsel yang entah keberadaannya di mana bergetar kencang. Setelah menemukannya di bawah bantal, saat hendak  meraihnya getaran tersebut berhenti. “Sial!”, batin Arya. Tiga panggilan tak terjawab dari sahabat yang sekaligus teman kuliahnya.

“Kenapa?”, isi pesan singkat yang dikirim melalui aplikasi Whatshap. Tidak berselang lama ponselnya kembali bergetar, lalu diangkatnya.

“Woi bangun dasar kebo!!”, teriak seseorang dari balik ponsel.

“Iya-iya ini udah bangun”, balas Arya.

“Halah baru bangun kan kamu! Ini udah jam berapa? Sebentar lagi kita rapat koordinasi!!”, maki teman Arya dari seberang.

“Sabar! Sebentar lagi otw”, jawab Arya mencari alasan.

Sambungan telepon diakhiri oleh Arya. Ia Nampak menghela napas panjang saat melihat sinar mentari sudah mengetuk jendela kamarnya, kemudian begegas ke kamar mandi. Sebenarnya hari ini libur, tidak ada kelas membosankan. Makanya Arya tidak merasa harus bangun pagi, terlebih semalam ia juga habis larut dalam kegundahan yang membuatnya susah untuk tidur.

Jarak antara rumah Arya menuju lokasi tempat diadakannya rapat cukup jauh, kurang lebih  membutuhkan waktu 45 menit menggunakan sepeda motor. Dengan vespa matic berwarna putih kesayangannya, ia menghujam aspal dengan kecepatan penuh. Sesampainya di lokasi, terlihat sudah lengkap anggota organisasi ekstra kampus yang berkumpul sebanyak 14 orang ditambah Arya menjadi 15 orang.

“Yaelah si kebo nyampe juga akhirnya”, ucap salah seorang yang berambut kribo mengunakan kacamata minus bulat berwarna silver. Kulitnya kuning langsat dengan perawakan sedang. Rambut kribonya menjadi ciri yang dipunya, itulah mengapa ia sering dipanggil dengan sebutan ‘kribo’ oleh teman-temannya. Siapa lagi kalau bukan sahabat Arya yang sudah berbaik hati mengingatkan acara penting ini.

“Brisik!”, tukas Arya menanggapi orang tersebut sambil melepas sepatu. Ia berjalan masuk sambil menyalami semua anggota yang sudah berkumpul termasuk orang tadi. Kemudian duduk disebelahnya. 15 orang terdiri dari 7 perempuan dan 8 laki-laki dengan segala posisi duduk ternyaman menurut mereka.

Tentunya cangkir-cangkir kopi, teh, asbak rokok dan kepulan asap adalah hal yang lumrah di sana. Meski kadang para perempuan mengibas-ngibas asap yang datang ke arah mereka menggunkan tangan lalu menutup hidung mereka sambil menggerutu. Itu adalah kesan yang biasa namun lucu.

“Oke mohon perhatiannya, berhubung Arya sudah datang maka kita akan segera melangsungkan rapat koordinasi terkait acara malam keakraban untuk mahasiswa baru yang sempat tertunda tadi”, ucap Kribo sambil melirik ke arah Arya, yang direspon dengan baik oleh anggota lain, tentunya mereka serentak mematikan rokok, membenarkan posisi duduknya lalu sekilas menatap Arya.

Reflek mungkin, atau karena jenuh menunggu kehadirannya yang baru saja tiba setelah ditunggu berjam-jam lamanya. Itu membuat Arya malu namun disembunyikan dengan sikap sok acuhnya. Apalagi dia adalah kepala bidang perkaderan yang tentunya selalu mendapat sorotan dari para anggota yang lain dikomisariat termasuk senior-seniornya diranah cabang.

Rapat berlangsung sekitar 4 jam lamanya, melalui perdebatan yang keras dan argumen-argumen matang karna didasari data yang faktual. Betapa Arya sangat tidak nyaman dengan rapat tersebut, bukan karena tidak memahami materi melainkan karna kekalutan semalam dan kurang tidur membuat ia tidak bisa berkonsentrasi dan lebih banyak diam.

“Ar!”, panggil Kribo sambil menepuk pundak Arya yang tengah menghisap sebatang surya di atas motor vespa putih miliknya.

“Kenapa lagi Bam?”, tanya Arya kearah Kribo yang bernama asli Bambang.

“Ada masalah? Sama cewekmu?”, tanya Bambang penasaran sambil menyalakan sebatang rokok yang diambil dari dashboar motor milik Arya.

“Yaaaa gitu”, jawab singkat Arya.

“Pantesan pas rapat kamu banyak bengong, masalah apa sih cerita dong!”, pinta Bambang yang dengan tepat menebak masalah sahabatnya tersebut.

“Panjang ceritanya, nggak selesai sekarang kalo diceritain”, jawab Arya enggan mengingatnya.

“Nggak apa-apa, aku dengerin kalaupun sampai tahun depan”,  ucap Bambang yang berusaha menghibur Arya.

“Dia minta putus. Alasannya ngga jelas, dan pergi gitu aja”

“Lah, terus gimana?”

“Gimana apanya?”

“Yaa hubungan kamu lah, kamu masih mau ngejar orang yang jelas-jelas hatinya bukan buat kamu lagi?”

“Tau ah pusing, jomblo kesepian, sekalinya punya cewek malah nggak berperikepacaran”, ucap Arya sambil menylentik putung rokoknya.

“Buset ngutip dari mana tu perikepacaran?”

“Dari ucapan Raditya Dika dicerpennya yang berjudul GERIMIS”

“Lah sejak kapan kamu suka baca cerpen?”, tanya Bambang lagi.

“Banyak nanya deh!”, bentak Arya.

“Kalem dong, gimana kalo kita muncak ke gunung aja?”, tawar Bambang  

“Gunung apa?”

“Gunung Prau. Menurut buku yang pernah aku baca, mendaki adalah salah satu cara terbaik untuk menepis patah hati. Selain deket,  Prau kan juga ngga tinggi-tinggi amat. Ayolah”, bujuk Bambang

Arya menghembuskan nafas panjang. Sebenarnya ada rasa malas dalam dirinya. Tapi melihat sahabatnya yang berusaha keras menghibur, akhirnya diiyakan tawaran tersebut. Meski sebenarnya, mendaki gunung adalah pengalaman pertama bagi Arya.

Arya dan Bambang mulai berangkat menuju basecamp terdekat keesokan harinya. Setelah mempersiapkan alat dan bekal yang harus dibawa, vespa putih milik Arya melaju kurang lebih 1 jam dengan kecepatan sedang. Selepas ashar, keduanya mulai menaklukkan jalanan yang cukup curam. Semburat jingga mulai tenggelam, dan masih tersisa setengah lagi perjalanan menuju puncak.

Kedua sahabat itu sesekali berhenti untuk menstabilkan deru nafas. Menikmati taburan bintang yang terlihat sangat dekat hingga rasanya bisa tergenggem. Sepanjang perjalanan mereka bercanda dan tertawa lepas. Arya merasakan dadanya kini sudah tak sesesak kemarin lusa.

“Bam, masih jauh?”

“Enggak, mungkin setengah perjalanan lagi”

“Aku capek. Kita nggak bisa mendirikan tenda di sini aja?”

“Dasar lemah! Ayolahhh”

Keduanya menenggak air dalam kemasan, sebelum akhirnya melanjutkan kembali perjalanan. Angin malam menyapu peluh keduanya. Bambang mengambil senter di sisi kanannya, dan menyeret tangan Arya yang hampir menyerah.

Sesampainya di puncak Prau, mereka mendirikan tenda berkapasitas 3 orang. Dingin angin menusuk tulang. Kopi panas, mi instan rebus, dan rokok, membawa keduanya lelap dalam tidur setelah hampir 3 jam menuju puncak tertinggi di Dieng.

Sekitar jam 2 pagi, Arya dan Bambang sudah terbangun karena tidak kuat menahan dingin. Mereka memutuskan untuk tidak tidur lagi menunggu sang jingga menampakkan diri. Terlihat, garis keemasan dan biru membentang membelah langit. Mereka keluar dari tenda dan mencari tempat terbaik untuk menyaksikan karya Tuhan itu.

“Jodoh itu memang lucu, orang yang sekarang bersamamu belum tentu sama dimasa depan”, ucap Bambang yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Arya.

“Ya, begitulah”, jawab Arya dengan sedikit tawa.

Matahari sudah mulai keluar dari peraduannya. Mata Arya tak bisa berhenti terkesima. Bentangan awan yang dihunus dua puncak gunung Sindoro dan Sumbing itu kini perlahan menampilkan karya bak lukisan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Ingat!!! Aku! Arya Saputra! Di atas puncak gunung Prau! Disaksikan oleh  dua puncak  gunung yang tegak di hadapanku! Menyatakan kemerdekaan sebagai manusia independen dan memutuskan untuk mengakhiri keterikatan atas dasar cinta! Sampai benar-benar menemukan seseorang yang tepat diwaktu yang tepat pula!!!”, ucap Arya lantang membuat pernyataan yang begitu tiba-tiba. Mengagetkan Bambang yang bergumam lirih namun menyimpan senyum tipis disela nya.

“Hahahahahaha”, tawa lepas bambang yang tidak kuat menahan kekonyolan yang diperlihatkan Arya. Mereka tertawa bersama dan saling merangkul satu sama lain di bawah semburat cahaya mentari pagi.

Kini hati Arya terasa lebih lapang. Sesuatu yang menghalangi jalan nafasnya perlahan hilang. Tidak ada yang lebih baik dari mengikhlaskan sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk dirinya. Senyum di wajahnya sudah terukir sempurna. Matanya terpejam, dan melepaskan segala kegelisahan yang telah ia pendam.

***

Tinggalkan Balasan